Penyelaman Ilmiah

Kegiatan menyelam sudah semakin populer di Indonesia, apa lagi Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terletak di garis khatulistiwa dan merupakan kawasan perairan tropis yang kaya akan sumber daya alam hayati dan non-hayati. Kita tahu bahwa 71% bagian bumi adalah lautan dan 29%-nya adalah daratan, dan Indonesia memiliki luas laut territorial sekitar 51.193.250 km/m3. Sekarang kita hidup di daratan yang hanya sepertiganya dari tanah air  kita ini, bukankah sayang jika kita tidak pernah menyentuh sedikitpun bagian yang luas luar biasa itu? Begitu indahnya pesona bawah laut Indonesia membawa para pecinta olahraga selam untuk menikmati suasana dan pemandangan dalam penyelaman, sehingga laut Indonesia menjadi sangat potensial sebagai objek wisata selam. Namun kekayaan laut Indonesia bukan hanya untuk dinikmati sebagai objek wisata semata dan menyelam bukan hanya sekedar untuk rekreasi dan ‘bermeditasi’ di bawah laut.

Berdasarkan tujuannya dan kepentingannya, aplikasi penyelaman dapat dibedakan antara lain: Yang pertama, sport diving (penyelaman olahraga), berdasarkan alat yang digunakan penyelaman ini terbagi menjadi skin diving (menggunakan alat dasar selam) dan scuba diving (menggunakan peralatan scuba). Yang kedua, penyelaman komersial, yaitu penyelaman professional seperti kontruksi bawah permukaan air, penambangan lepas pantai, perbaikan bawah kapal, dll. Yang ketiga, untuk penyelaman ilmiah (scientific diving), seperti penelitian biologi, arkeologi, konservasi, eksplorasi, geologi, dan kepetingan di bidang kelautan. Dan juga penyelaman untuk kepentingan militer (military diving).

Keempat kegiatan menyelam tersebut sangat penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan laut kita dan bagaimana menjaganya. Bicara soal pemanfaatan laut,penyelaman ilmiah sangat penting. Umumnya kegiatan penyelaman ilmiah dilakukan dalam bidang keilmuan marine ecology, marine biology, oseanografi, dan lain-lain. Kegiatan penyelaman ilmiah itu sendiri telah dilakukan peniliti di Indonesia sejak tahun 1960-an yang ditandai berdirinya Fakultas Perikanan di IPB Bogor. Penyelaman ilmiah telah dilakukan di Indonesia terutama untuk kegiatan penilaian status sumberdaya kelautan, pengumpulan sampel biota, fotografi bawah laut, dan pengeboran bawah laut.

Scientific Diving menurut Komisi Nasional Scientific Diving (KFT) Jerman Dr. Phillip Fischer adalah segala aktivitas penyelaman ilmiah yang memerlukan keahlian, termasuk penyelaman jurnalistik. Bidang studi yang tercakup di dalamnya adalah Biologi (Biologi Kelautan, Limnologi dan Oseanografi), Arkeologi, Geologi, Pekerjaan Teknik Bawah Air (pemipaan, kabel bawah laut, dll) serta Jurnalistik ilmiah. Komisi ini berwenang mengeluarkan standar kualifikasi Scientific Diving di Jerman. Seorang penyelam yang menginginkan sertifikat Scientific Diving harus menjalani pendidikan di Training Center for Scientific Diving yang terdapat di beberapa universitas di Jerman seperti di Universitas Rostok, Univ. Kiel, Univ. Hamburg, dll. Tingkatan sertifikasi dibagi menjadi tiga, yaitu penyelam riset (Certified Research Divers), supervisor penyelam ilmiah (Supervisor for Scientific Divers), Instruktur penyelam ilmiah (Scientific Diver Instructor). Untuk menjadi peserta program pendidikan Scientific Diving penyelam telah memiliki sertifikat 2 star dengan pengalaman penyelaman 30 jam. Pendidikan penyelam ilmiah ini membutuhkan waktu 2X4 minggu, yaitu tingkat 1 dan 2 masing-masing membutuhkan waktu 4 minggu waktu pendidikan dan latihan. Pelajaran di tingkat 1 berupa teori dasar selam dan ketrampilan selam dasar serta penanganan pertolongan pertama pada kecelakaan sedangkan pada tingkat 2 telah diajarkan ketrampilan selam untuk pekerjaan bawah air, penggunaan peralatan riset bawah air dan prosedur penelitiannya, juga materi perencanaan dan pengorganisasian proyek riset bawah air disamping pelajaran penanganan pertolongan pertama kecelakaan.

POSSI yang pada tahun 2010 ingin memberi wadah bagi pengembangan selam scientific (scientific diving), kegiatan yang bernilai ekonomis, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) seperti marine ecotourism, marine conservation, marine archeology, marine geology, marine biology, dan oceanography belum banyak mendapat perhatian dan pengembangan di Indonesia. Penguasaan iptek menjadi dasar pengembangan sumber daya manusia Indonesia, agar memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. SDM yang berdaya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup melalui pengembangan bidang kelautan dan perikanan, yang didukung penelitian dalam bidang kelautan.

Kini sektor kelautan yang para ekonom sudah memperkirakan bahwa jika potensi kelautan Indonesia dikelola dengan optimal maka mampu memberi pemasukan nasional hinggal USD 173 Milyar. Potensi itu meliputi antara lain perikanan, sumber daya wilayah pesisir, bioteknologi, minyak, wisata bahari, dan transportasi laut. Namun sayangnya perhitungan mengenai kelautan Indonesia yang seolah dapat menjawab masalah kesejahteraan bangsa belum memberikan sumbangan apapun bagi kemajuan Negara ini. Banyak aspek yang menjadikan sulitnya ilmu pengetahuan berkembang di Indonesia, yakni kegagalan sistem yang menyebabkan kurangnya sumber daya manusia berkualitas. Maka sangat dibutuhkan perhatian dan dukungan baik dari pemerintah maupun masyarakat Indonesia dalam pengembangan di bidang scientific diving.

Referensi:

http://marinedivingclub.wordpress.com/2008/05/14/workshop-scientific-diving-sebuah-rintisan-sertifikasi-selam-ilmiah-di-indonesia/

www.coremap.or.id/downloads/menyelam_1158562081.pdf

http://biotalautnegeriku.blogspot.com/

http://indomaritimeinstitute.org/?p=1146

M. Sibghotulloh Ridho http://sagaramarta.blogspot.com/2012/03/peran-penyelaman-ilmiah-dalam-rangka.html

Gambar

Penyelaman Arkeologi

Benda Muatan Asal Kapal Tenggelam di Situs Karang Kijang – Belitung;
Survei Awal Arkeologi Bawah Air[1]
Harry Octavianus Sofian[2]
Balai Arkeologi Palembang
 
Abstrak
Pulau Belitung dikelilingi oleh dua selat, yaitu Selat Gaspar dan Selat Karimata yang dikenal oleh para pelaut sebagai selat yang memiliki banyak terumbu karang dan beting pasir yang dapat menyebabkan kapal tenggelam atau kandas. Pulau Belitung dikenal sebagai surga peninggalan arkeologi bawah air berupa kapal tenggelam atau kandas dan benda muatannya. Salah satu tempat yang terdapat BMKT adalah Situs Karang Kijang, tulisan ini akan membahas survei arkeologis yang dilakukan di perairan Karang Kijang-Belitung sehingga diharapkan dapat menambah data tinggalan arkeologi bawah air Indonesia.
Kata kunci : Pulau Belitung, Situs Karang Kijang, arkeologi bawah air
 
Shipwreck Treasure in Karang Kijang Site – Belitung Distric;
Preliminary Survey of Underwater Archaeology
Abstrack
Belitung island surrounded by two straits, the Gaspar Strait and the Strait Karimata known by sailors as a strait which has many reefs and shoals of sand that can cause the ship sank. Belitungisland known as the underwater archaeological sites in the form of ships sank. One of the places isKarang Kijang Site, this paper will discuss the archaeological preliminary survey conducted in this sites, which is expected to increase data Indonesia underwater archeological sites.

Key words: 
Belitung Island, Karang Kijang site, underwater archeology
 
PENDAHULUAN  
1.      Latar Belakang
Berdasarkan letak geografisnya, Pulau Belitung berada pada posisi 2°30’ – 3°15’ Lintang Selatan dan 107°35’ – 108°18’ Bujur Timur pada bagian utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah timur Selat Karimata, sebelah Barat berbatasan dengan Selat Gaspar dan batas Selatan dengan Laut Jawa. Pulau Belitung banyak dikelilingi pulau-pulau besar dan kecil dengan jumlah sekitar 189 pulau. Luas wilayah Pulau Belitung seluas 34.496 km² terdiri dari 4.800 km² daratan dan 29.606 km² perairan (Listiyani,2008;20).
 
Gambar 1. Peta Keletakan Pulau Belitung
(Sumber : google earth)
 
Letak geografis Pulau Belitung yang strategis menjadikan Pulau Belitung sebagai salah satu jalur pelayaran perdagangan internasional, hal ini dapat dilihat dari bukti-bukti arkeologi berupa kapal karam dan muatannya yang ditemukan merupakan bukti peranan Pulau Belitung dalam jalur pelayaran perdagangan internasional. Beberapa kapal karam yang ditemukan antara lain Belitung Wreck abad ke-8, Tek Singabad ke-18, Intan Wreck abad ke-10. Penemuan kapal karam memastikan jalur sepanjang pantai terhubung dengan pelabuhan-pelabuhan yang disinggahi. Pada abad ke-8 – 9, nusantara menjadi lintasan kapal niaga antara Asia Timur atau Cina dengan Asia Barat dari India sampai Timur Tengah, kemudian menjelang abad ke-17 mulai berkembang ke Jepang dan Eropa (Harkatiningsih:2010;16-18).
 
Gambar 2. Peta rute perdagangan keramik melalui jalur pelayaran
(Sumber : Harkatiningsih:2010;17)
 
Kehadiran barang-barang keramik menjadi salah satu indikasi lebih nyata tentang aktivitas pelayaran dan perdagangan. Keramik merupakan salah satu artefak yang memiliki ciri-ciri asal pembuatannya dan masa/kronologinya. Oleh karena itu, melalui identifikasi keramik dan korelasinya dengan tinggalan lain, dapat memberikan bukti-bukti atau peristiwa yang ada kaitannya dengan terbentuk dan berkembangnya hubungan atau kontak dagang, baik secara regional maupun interregional. Lebih dari itu, situs kapal karam merupakan himpunan yang sejaman (assemblage) yang mengandung nilai data yang sangat tinggi (Harkatiningsih:2010;16).
 
2.      Permasalahan
Saat ini perhatian terhadap penelitian tinggalan arkeologi bawah air masih sangat terbatas, padahal Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak peninggalan bawah air, salah satunya adalah Pulau Belitung yang merupakan surga bagi penelitian arkeologi bawah air. Hasil pendataan yang dilakukan oleh Direktorat Peninggalan Bawah Air, situs-situs arkeologi bawah air di perairan Belitung antara lain :
1.      Shipwreck yang terdapat di perairan Desa Sungai Pandan, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung dengan keadaan bangkai kapal masih tersisa.
2.      Shipwreck Batu Hitam (Belitung Wreck) pada tahun 1998 telah dieksplorasi oleh pihak swasta, isi muatan yang utuh sudah terangkat, yang tertinggal adalah bangkai dan artefak yang tidak utuh.
3.      Shipwreck perairan Pulau Siadung
4.      Shipwreck perairan Karang Raya (R.Widiati dalam Listiani: 2008;21).
Situs Karang Kijang merupakan salah satu tinggalan arkeologi yang belum pernah dilakukan penelitian arkeologi sebelumnya sehingga belum diketahui potensi tinggalan arkeologi yang ada di Situs Karang Kijang.
 
3.      Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah mendata tinggalan arkeologi yang ada di Situs Karang Kijang dan memberikan saran untuk penelitian selanjutnya.
 
4.      Metode Penelitian
Metode Penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini bersifat eksplorasi yaitu menjajagi potensi arkeologis yang terdapat di suatu tempat untuk mengetahui sesuatu yang belum diungkapkan (Sukendar,1999;20).
 
 
HASIL DAN PEMBAHASAN
 
Situs Karang Kijang berada sebelah barat Selat Gaspar tepatnya di koordinat 45° 22’S, 107° 34’E. Karang Kijang merupakan penamaan lokal masyarakat setempat terhadap gugusan karang, hal ini untuk membedakan letak gugusan karang yang banyak terdapat di perairan Belitung. Jarak tempuh Situs Karang Kijang dari Pelabuhan Nusantara adalah 6,2 km dan 258°.
 
 
 
Gambar 3. Peta letak Situs Karang Kijang
(sumber : google earth dengan modifikasi penulis)
 
Situs Karang Kijang memiliki kedalaman hanya 1,5 meter dari permukaan laut dan memiliki luas ± 100 m². Temuan artefak yang ditemukan adalah keramik dan fragmen bagian kapal. Temuan artefak keramik ditemukan secara mengelompok dan telah rusak, pada saat pengamatan penulis tidak menemukan artefak keramik yang utuh. Menurut nelayan, Situs Karang Kijang telah dijarah BMKT-nya, ada ribuan artefak keramik berupa mangkuk, buli-buli, dan guci utuh yang ditemukan dan dijarah oleh masyarakat. Mengingat Situs Karang Kijang hanya memiliki kedalaman yang dangkal tidak mengherankan jika situs ini mudah sekali dijarah.
 
 
Gambar 4. Foto Situs Karang Kijang memiliki kedalaman
hanya 1,5 m dari atas permukaan laut.
(sumber : Balai Arkeologi Palembang)
 
Keramik-keramik yang ditemukan di Situs Karang Kijang adalah keramik biru putih (blue white) dengan motif fauna yaitu motif naga (dragon) dan punggung kura-kura (turtle back). Keramik-keramik tersebut tersebar secara mengelompok dan bertumpuk-tumpuk di antara karang. Tumpukan-tumpukan keramik tersebut merupakan keramik sortir dan dibuang oleh para penjarah karena tidak utuh atau pecah dan sudah tidak bernilai ekonomis lagi.
 
 
 
Gambar 4 dan 5. Foto temuan fragmen keramik biru putih
berupa mangkuk dan buli-buli (?)
(sumber : Balai Arkeologi Palembang)
 
Keramik biru putih dengan motif naga, menurut Mr. Koh merupakan kepala dari seluruh reptil bersisik, naga merupakan kekuatan yang dapat naik ke surga maupun ke dalam bumi karena dapat mendatangkan hujan, sehingga menjadi simbol kekaisaran China serta menjadi simbol penting bagi masyarakat China karena menganggap dirinya merupakan keturunan naga. Sedangkan motif punggung kura-kura merupakan lambang dari umur panjang. Qilin, Phoenix, Kura-kura dan Naga adalah makhlukrohani 4 diberkati. Kura-kura juga disebut xuan wu (玄武), prajurit hitam memimpin bagian utara alam semesta dan melambangkan musim dingin. (Koh;2008).
 
 
 
 
Gambar 5 dan 6. Foto sebaran fragmen keramik
yang mengelompok
(sumber foto: BP3 Jambi)
 
 
Seperti telah penulis sebutkan sebelumnya, keramik tersebar mengelompok dan tidak utuh. Fragmen keramik ditemukan bertumpuk-tumpuk membentuk gundukan keramik, penulis memperkirakan keramik sisa yang masih ditemukan disitus merupakan keramik yang tidak bernilai ekonomis karena tidak bernilai jual dan ada keramik yang memang sudah pecah saat kapal menghantam karang dan kandas, keramik merupakan barang pecah belah (fragile). Berdasarkan analisa awal, penulis memperkirakan BMKT di situs Karang Kijang adalah keramik dari Dinasti Ming. Analisa ini penulis dapatkan dengan cara melakukan seriasi (tehnik perbandingan) motif dari keramik.
 
 
 
Gambar 7 dan 8. A, keramik Tiansun/Chenghua
periode Dinasti Ming, sedangkan B, keramik dari situs Karang Kijang.
Kedua keramik ini memiliki motif punggung kura-kura
(sumber foto A: koh-antique.com, foto B: Balai Arkeologi Palembang)
 
 
Tidak diketahui pasti kapal kandas yang membawa kargo di situs karang Kijang. Apakah kapal China, seperti situs Tek-Sing, apakah kapal Arab seperti situs Belitung Wreck, atau bahkan kapal Eropa atau Nusantara yang mengangkut kargo keramik China. Tidak ditemukan petunjuk yang berarti, penulis hanya menemukan fragmen bagian kapal yang tidak diketahui lagi bagiannya. Tentu saja analisis karbon dating (C14) di perlukan untuk mengetahui asal kayu seperti yang pernah dilakukan pada situs Belitung Wreck(lihat artikel Flecker tentang situs Belitung Wreck).
 
 
 
Gambar 7. Fragmen bagian perahu terbuat dari kayu
(sumber foto : BP3 Jambi)
 
KESIMPULAN
 
Situs Karang Kijang merupakan salah satu situs arkeologi bawah air dengan kedalaman yang dangkal, yaitu 1,5 meter di bawah permukaan laut. Karena letak dan kedalaman yang mudah dicapai oleh manusia serta BMKT-nya bernilai ekonomis maka Situs Karang Kijang di jarah BMKT-nya sehingga situs arkeologi ini menjadi rusak. Tinggalan data artefak berupa keramik yang masih in situ pada situs adalah keramik dengan motif flora yaitu naga dan kura-kura, keramik-keramik tersebut berbentuk mangkuk, buli-buli dan guci.
Walaupun situs ini telah dirusak, namun situs ini menjadi bukti arkeologi keganasan Selat Gaspar dengan gosong karangnya sehingga mampu untuk mengkandaskan kapal dan menumpahkan muatannya. Tidak diketahui pasti kapal apa dan dari mana kapal pembawa keramik ini berasal karena rusaknya data arkeologi pada situs. Namun situs ini layak dijadikan tempat pelatihan arkeologi bawah air untuk belajar cara melakukan lay-out dan pengukuran arkeologi bawah air dengan kedalaman yang dangkal.
 
 
 
PENGHARGAAN
 
Ucapan terima kasih penulis sampaikan untuk Agus Sudaryadi dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi dan Sakinawa dari EMAS Diving Club Bangka Belitung atas bantuannya.
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Sukendar, Haris (Ed). 1999. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta; Departemen Pendidikan Nasional Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Listiyani. 2008. Keramik BMKT Hasil Survei Kepurbakalaan Di Kabupaten Belitung. Buletin Relik No. 06 September 2008. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi.
Harkatiningsih, Naniek. Perdagangan Di Nusantara: Bukti-bukti Jaringan Interregional makalah dalam Proceeding Perdagangan, Pertukaran Dan Alat Tukar Di Nusantara Dalam Lintas Masa. Semarak Arkeologi 2010. Balai Arkeologi Bandung.
 
Internet
Koh,NK. 2008Dragon, Winged Dragon, Dragon With Foliated Tail And Chi Dragon.http://www.koh-antique.com/motif/motif1.html (diakses tgl 21-04-2011).
 
 
 

[1] Artikel telah diterbitkan di Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat  TH. III No. 1, Juni 2011, Balai Arkeologi Jayapura
[2] Staf arkeologi Balai Arkeologi Palembang, Jl. Kancil Putih Lrg. Rusa Demang Lebar Daun Palembang 30137

 

 
 

Underwater Clean Up II

“Laut bukan tempat sampah”


Ini jangan hanya di jadikan sebuah slogan semata, hal ini harus direalisasikan agar laut kita bersih dari sampah.
atas dasar inilah maka Fisheries Diving Club Universitas Hasanuddin (FDC UNHAS) menyelenggarakan sebuah kegiatan yang bernama “Underwater Clean Up II” dengan tema ” Dengan Semangat Bahari Kita Wujudkan Kabupaten Bantaeng Sebagai Pusat Pengembangan Ekosistem Pesisir dan Laut” kegiatan ini terlaksana atas kerjasama yang sangat baik antara FDC UNHAS dengan PEMERINTAH KABUPATEN BANTAENG. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Bantaeng
Peserta kegiatan berasal dari Anggota FDC UNHAS, Beberapa Pejabat Kab. Bantaeng dan Beberapa Siswa Dari beberapa Sekolah Menengah Atas yang ada di Kabupaten Bantaeng

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membersihkan wilayah pantai dan laut Kabupaten Bantaeng
dengan tujuan:
o Sebagai wadah bagi mahasiswa khususnya UKM Fisheries Diving Club Universitas Hasanuddin dalam bentuk pengabdian pada masyarakat pesisir.
o Membangun kepedulian dan kesadaran terhadap lingkungan bahari.
o Mengajak masyarakat untuk menjaga ekosistem laut dan pesisir.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain:

Aksi bersih pantai dan laut: memungut sampah-sampah yang ada di tepi pantai dan yang ada didasar laut
Kampanye lingkungan : yakni dengan membagi-bagikan stiker tentang menjaga laut

Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan contoh terhadap masyarakat agar dapat menjaga lingkungan terutama lingkungan pesisir dan tidak membuang sampah sembarangan apalagi di laut……semoga !!!

Penulis: Chimbo Dopans

Beberapa Genus Karang yang Umum di Indonesia

Beberapa Genus Karang yang Umum di Indonesia
Berdasarkan survei karang yang pernah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia oleh beberapa ahli karang, ternyata genus karang yang umum dijumpai di perairan Indonesia antara lain meliputi :
1. Genus Acropora (Familia Acroporidae)
Genus Acropora memiliki jumlah jenis (spesies) terbanyak dibandingkan genus lainnya pada karang. Karang jenis ini biasanya tumbuh pada perairan jernih dan lokasi dimana terjadi pecahan ombak. Bentuk koloni umumnya bercabang dan tergolong jenis karang yang cepat tumbuh, namun sangat rentan terhadap sedimentasi dan aktivitas penangkapan ikan.
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Acropora antara lain ialah:
• Koloni biasanya bercabang, jarang sekali menempel ataupunsubmasif.
• Koralit dua tipe, axial dan radial.
• Septa umumnya mempunyai dua lingkaran.
• Columella tidak ada.
• Dinding koralit dan coenosteum rapuh.
• Tentakel umumnya keluar pada malam hari.
2. Genus Montipora (Familia Acroporidae)
Genus Montipora sering ditemukan mendominasi suatu daerah. Sangat tergantung pada kejernihan suatu perairan. Biasanya berada pada perairan dangkal berkaitan dengan intensitas cahaya yang diperolehnya dengan bentuk koloni berupa lembaran.
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Montipora ini antara lain ialah:
• Bentuk koloni bervariasi, ada yang submasif, laminar, menempel ataupun bercabang.
• Ukuran koralit umumnya kecil.
• Septa umumnya memiliki dua lingkaran dengan bagian ujung (gigi) muncul keluar. Apabila disentuh maka akan terasa tajam.
• Tidak memiliki columella.
• Dinding koralit dan coenosteum keropos. Coenosteum memiliki beberapa tipe: Papillae bila coenosteum lebih kecil dibandingkan dengan ukuran koralit, dan tuberculae jika sebaliknya. Apabila berkelompok mengelilingi koralit disebut thecal papillae dan juga ada thecal tuberculae.
• Tentakel umumnya keluar pada malam hari.
o Karang yang struktur rangka kapurnya mirip dengan genusMontipora adalah genus Porites, dan kadangkala sulit untuk membedakannya. Namun pada pengamatan bawah air, struktur internal pada koralit karang genus Porites lebih jelas terlihat dibandingkan dengan karang genus Montipora, dan sebagian besar Montipora memiliki coenosteum yang lebar, sementaraPorites tidak memiliki coenosteum.
3. Genus Pocillopora (Familia Pocilloporidae)
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Pocillopora antara lain ialah:
• Koloni umumnya berbentuk submasif, bercabang, ataupun bercabang dengan bentuk pipih.
• Koloni ditutupi oleh verrucae.
• Koralit cekung ke dalam pada verrucae.
• Koralit mungkin tidak memiliki struktur dalam atau memilikicolumella yang kurang berkembang.
• Memiliki dua lingkaran septa yang tidak sama.
• Coenosteum biasanya ditutupi oleh granules (butiran).
• Tentakel umumnya keluar hanya pada malam hari
• Genus Pocillopora merupakan satu-satunya genus pada karang yang memiliki verrucae. Hal tersebut menjadi ciri khas yang membedakannya dengan genus-genus karang yang lain.
4. Genus Seriatopora (Familia Pocilloporidae)
Karakteristik genus Seriatopora antara lain ialah:
• Ciri khas koloninya berbentuk compact bushes dengan cabang yang halus. Koralit tersusun rapi (neat rows) sepanjang cabang.
• Koralit sebagian besar tenggelam (immerse) dan struktur internal tidak begitu berkembang kecuali columella.
• Septa umumnya berjumlah satu, namun kadangkala terdiri atas dua lingkaran, dan telah berkembang dan menyatu hingga ke columella.
• Coenosteum ditutupi oleh spinules (duri-duri) yang halus.
• Struktur rangka kapur genus Seriatopora hampir mirip dengan genusStylophora, tetapi dapat dibedakan, dimana percabangan genusSeriatopora lebih halus (kecil) dibandingkan dengan genus Stylophora.
5. Genus Favia (Familia Faviidae)
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Favia antara lain ialah:
• Bentuk koloni umumnya masif, flat atau dome-shaped.
• Koralit sebagian besar monocentric (satu columella dalam satu corallite) dan plocoid.
• Memperbanyak koralit melalui pembelahan intratentacular.
• Tentakel umumnya keluar hanya pada malam hari.
• Struktur rangka kapur genus Favia mirip dengan genus Favites tapi dapat dibedakan dengan perbedaan tipe koralit karang. Tipe koralitFavites tergolong ceroid, sedangkan tipe koralit Favia tergolongplocoid.
6. Genus Favites (Familia Faviidae)
Beberapa karakteristik bentuk rangka kapur dari genus Favites :
• Bentuk koloni umumnya masif, flat atau dome-shaped.
• Koralit berbentuk monocentric dan ceroid, beberapa berbentuksubplocoid.
• Pada koloni karang ini, antar dua koralit dibatasi oleh satu dinding koralit.
7. Genus Porites (Familia Poritidae)
Beberapa karakteristik bentuk rangka kapur dari genus Porites :
• Bentuk koloni ada yang flat (foliaceous atau encrusting), masif ataubercabang.
• Koloni yang masif berbentuk bulat ataupun setengah bulat. Koloni masif yang kecil akan terlihat berbentuk seperti helm atau dome-shaped, dengan diameter dapat mencapai lebih dari 5 m.
• Koralit berukuran kecil, cekung ke dalam (terbenam) pada badan koloni dengan lebar Calice kurang dari 2 mm.
• Tentakel umumnya keluar pada malam hari.
Genus Porites ini mirip dengan genus Montipora dan Stylaraea, namun memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan antara Porites denganMontipora ialah bahwa Porites memiliki bentuk pertumbuhan yang lebih beragam, koralit pada Porites lebih besar, kokoh dan tidak ada elaborate thecal (perpanjangan dinding koralit). Genus Montipora mempunyai dua tipe coenosteum, yaitu reticulum papillae dan tuberculae. Selain itu,Porites memiliki koralit yang umumnya selalu terlihat septanya, sementaraMontipora hanya memiliki perpanjangan gigi septa yang menonjol keluar sehingga terasa runcing dan kasar bila tersentuh.
8. Genus Goniopora (Familia Poritidae)
• Bentuk koloni columnar , masif dan encrusting.
• Koralit tebal tapi berdinding keropos dan calice memiliki septa yang kokoh dan memiliki columella.
• Polip genus Goniopora berukuran panjang dan keluar baik pada malam maupun siang hari.
• Polip genus Goniopora memiliki 24 tentakel.

dikutip dari:http://www.terangi.or.id/publications/pdf/sistematika.pdf