Terumbu buatan (Artificial reef)

Terumbu karang merupakan ekosistem yang unik, memiliki nilai yang sangat tinggi baik dari segi ekologis maupun dari sisi ekonomi. Didalamnya hidup beraneka ragam biota laut yang saling berinteraksi membentuk suatu ekosistem. Tingginya nilai yang dimiliki oleh terumbu karang tidak serta-merta membuatnya aman dari berbagai factor kerusakan baik yang disebabkan oleh alam maupun oleh manusia yang dampaknya lebih besar, kerusakan terumbu karang yang disebabkan oleh manusia yaitu dengan banyaknya terjadi penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak, penggunaan sianida (potas), penambangan batu karang yang digunakan untuk bahan bangunan.

Tingginya kerusakan yang dialami oleh ekosistem terumbu karang perlu diminimalisir dengan berbagai metode, salah satunya dengan metode terumbu buatan (artificial reef).

Terumbu buatan merupakan salah satu usaha konservasi terumbu karang dengan meletakkan benda-benda keras, seperti kapal bekas, mobil bekas, ban mobil bekas(tidak direkomendasikan) dan bahan-bahan beton lainnya di dasar laut, yang nantinya benda-benda tersebut dapat menjadi habitat yang baru bagi ikan-ikan dan dapat menjadi tempat menempelnya polip-polip karang yang baru.

Terumbu buatan pada awalnya digunakan sebagai Fish agregation devices untuk meningkatkan hasil tangkapan pada daerah-daerah yang kurang produktif, seperti pantai berpasir/Lumpur dan untuk meningkatkan penghasilan nelayan-nelayan kecil yang tidak mampu menangkap ikan di laut terbuka, kemudian terumbu buatan ini menjadi objek penelitian untuk mengamati lebih jauh tentang pengaruh kehadiran terumbu buatan terhadap lingkungan setempat baik fisik maupun biologis.

Beberapa tujuan penggunaan artifisial reef dan habitat buatan lainnya menurut Bohnsack, J.A. and D.L. Sutherland. (1985) antara lain: (1) pengembangan penangkapan ikan;(2) pengurangan tekanan penangkapan pada jumlah yang dibatasi; (3) pencegahan operasi penangkapan ikan di jalur lintas kapal; (4) menghindarkan operasi kapal trawl; (5) perbaikan dan pemulihan pertumbuhan habitat yang rusak; (6) pengendalian erosi pantai; (7) melengkapi kebutuhan bangunan breakwater dan (8) penyediaan area spawning ground. Belakangan, sebagai fungsi tambahan adalah untuk (9) penyediaan areal untuk penyelaman bagi pariwisata dan rekreasi; (10) untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan (11) untuk menyediakan ladang bagi pembudidayaan kerang-kerangan dan sebagainya.

Sesuai dengan maksud dan tujuan pembuatan terumbu buatan, maka benda-benda yang diletakkan di perairan memiliki syarat-syarat tertentu :

mempunya sifat tahan lama

mempunyai banyak lubang atau celah-celah untuk berlindug bagi biota laut

terhindar dari timbunan endapan

tidak mengganggu aktivitas lalu lintas kapal

tidak bersifat pencemar bagi perairan.

Salah satu contoh metode terumbu buatan pernah dilakukan di Filipina dengan meletakkan ban bekas di dasar perairan, namun berdasarkan hasil penelitian kemudian metode terumbu buatan ini tidak direkomendasikan karena memiliki efek pencemar yang tinggi terhadap perairan.

Keberhasilan metode terumbu buatan juga dipengaruhi oleh berbagai factor, yaitu :

  1. factor lingkungan, khususnya parameter oceanograpi lokasi dimana terumbu tersebut diletakkan harus sesuai dengan factor pembatas lingkungan terumbu karang agar polip karang dapat tumbuh di terumbu tersebut
  2. Peletakannya, sebaiknya berada tidak jauh dari terumbu karang yang hidup, serta mempertimbangkan arah arus perairan,agar diharapkan polip karang yang bersifat plantonis akan terbawa arus menuju terumbu buatan. Hal ini sesuai dengan pendapat Horrison (2000), bahwa arus dapat mentransfortasikan larva dan telur ikan serta makanan ikan (plankton) searah dengan arah arus.
  3. Ukuran lubang, beberapa percobaan menunjukkan bahwa ukuran dan jumlah lubang pada terumbu buatan mempengaruhi jumlah dan jenis ikan. Di siang hari mungkin pengaruhnya kurang, akan tetapi di waktu malam menjadi penting sebagai pelindung ikan. Pengalaman lain menunjukkan bahwa lubang yang besar cenderung kurang memberikan perlindungan bagi ikan kecil terhadap predator, menghasilkan jumlah kecil ikan dan miskin jenis. Ogawa (1952) menyatakan bahwa ikan tidak tinggal pada kamar terumbu buatan dengan bukaan 2 m atau lebih, dan menyarankan ukuran bukaan antara 0,15 ~ 1,5 m untuk keperluan perikanan.

Beberapa contoh terumbu buatan yang pernah dilakukan antara lain: dengan menenggelamkan 2 buah bekas Landing Craft di South Carolina, peletakan 20 buah bekas ban mobil di dekat Malibu, peletakan 30.000 ban mobil bekas dan 4 buah kapal bekas di South Carolina.

Di Indonesia, pembuatan terumbu buatan diprakarsai oleh Kolinlamil TNI AL dengan melaksanakan Operasi Bhakti peletakan bis-bis beton di Pulau Kotok kecil, Kepulauan Seribu, Jakarta pada tanggal 5 juli 1979 dengan tujuan untuk melestarikan lingkungan, khususnya terumbu karang.

Sesuai dengan tujuannya, pembuatan dan pemasangan terumbu buatan di dasar laut memberikan kesempatan untuk memperbaiki habitat karang, memperkaya sumber daya, memanipulasi kelimpahan organisme dengan rekayasa teknologi. Secara teoritis, ekologi terumbu buatan hendaknya tidak akan berbeda dengan ekologi terumbu karang alami kecuali perbedaan dalam hal bentuk, desain dan susunan terumbu buatan. Jenis-jenis karng dan ikan serta organisme lain yang berkembang dan memanfaatkan terumbu buatan akan serupa dengan populasi yang berasal dari terumbu karang sekitarnya bila rekayasa terumbu buatan berhasil dalam mengadaptasikan ekosistem karang ke lokasi bangunan terumbu buatan tersebut..*)

Berhasilnya suatu terumbu buatan dalam menciptakan habitat buatan sangat dipengaruhi oleh pemahaman yang baik tentang ekologi terumbu karang dan hubungannya dengan terumbu buatan tersebut dalam menentukan bentuk, desain konstruksi dan efektivitas terumbu buatan.

The buble maker

*)Sumber Kutipan : Laporan Terumbu Karang Buatan di Pulau Kapoposang, Kabupaten Pangkep. Kerjasama antara Bagian Proyek Pengelolaan Sumberdaya Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sulawesi Selatan dengan Pusat Studi Terumbu Karang Universitas Hasanuddin. :
Sumber :
– Harrison, P. J. and T R. 2000. Fisheries Oceanography (An Integrative Approach to Fisheries Ecologi and Management). Blackwell Science.Kanada.
– Laporan Terumbu Karang Buatan di Pulau Kapoposang, Kabupaten Pangkep. Kerjasama antara Bagian Proyek Pengelolaan Sumberdaya Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sulawesi Selatan dengan Pusat Studi Terumbu Karang Universitas Hasanuddin.
– Ogawa, Y. 1982. The present status and future prospect of artificial reef: Development trends of artificial reef units. Pp 23 – 41. Technical Report 604. Aquabio Inc., Florida.

Advertisements

2 responses to “Terumbu buatan (Artificial reef)

  1. terumbu buatan sih oke2 saja… tapi selama ini, terkesan hanya buang-buang duit di laut karena ternyata tidak banyak anakan karang / planula yang bisa menempel di substrat tsb, malah kebanyakan didominasi oleh tumbuhan alga.
    ….barangkali teman2 FDC berminat meneliti hal tsb?
    kalo terumbu buatan jadi tempat persinggahan ikan (fish shalter) memang banyak dilaporkan oleh para peneliti karena bentuk terumbu buatan yang biasanya berlubang2 (lorong) yang dapat dijadikan tempat berlindung dari pemangsa atau malah tempat yang baik untuk menunggu mangsa lewat…
    Yang perlu diperhaikan juga adalah material terumbu buatan agar tidak mencemari lingkungan dan mengganggu stabilitas ekosistem.

  2. hallo..dinda..HIMA MSP pernah buat artificial reef di barrang lompo thn 2000 lalu,,tlg di cek gmn kondisinya skrg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s