Underwater Clean Up II

“Laut bukan tempat sampah”


Ini jangan hanya di jadikan sebuah slogan semata, hal ini harus direalisasikan agar laut kita bersih dari sampah.
atas dasar inilah maka Fisheries Diving Club Universitas Hasanuddin (FDC UNHAS) menyelenggarakan sebuah kegiatan yang bernama “Underwater Clean Up II” dengan tema ” Dengan Semangat Bahari Kita Wujudkan Kabupaten Bantaeng Sebagai Pusat Pengembangan Ekosistem Pesisir dan Laut” kegiatan ini terlaksana atas kerjasama yang sangat baik antara FDC UNHAS dengan PEMERINTAH KABUPATEN BANTAENG. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Bantaeng
Peserta kegiatan berasal dari Anggota FDC UNHAS, Beberapa Pejabat Kab. Bantaeng dan Beberapa Siswa Dari beberapa Sekolah Menengah Atas yang ada di Kabupaten Bantaeng

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membersihkan wilayah pantai dan laut Kabupaten Bantaeng
dengan tujuan:
o Sebagai wadah bagi mahasiswa khususnya UKM Fisheries Diving Club Universitas Hasanuddin dalam bentuk pengabdian pada masyarakat pesisir.
o Membangun kepedulian dan kesadaran terhadap lingkungan bahari.
o Mengajak masyarakat untuk menjaga ekosistem laut dan pesisir.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain:

Aksi bersih pantai dan laut: memungut sampah-sampah yang ada di tepi pantai dan yang ada didasar laut
Kampanye lingkungan : yakni dengan membagi-bagikan stiker tentang menjaga laut

Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan contoh terhadap masyarakat agar dapat menjaga lingkungan terutama lingkungan pesisir dan tidak membuang sampah sembarangan apalagi di laut……semoga !!!

Penulis: Chimbo Dopans

Advertisements

Beberapa Genus Karang yang Umum di Indonesia

Beberapa Genus Karang yang Umum di Indonesia
Berdasarkan survei karang yang pernah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia oleh beberapa ahli karang, ternyata genus karang yang umum dijumpai di perairan Indonesia antara lain meliputi :
1. Genus Acropora (Familia Acroporidae)
Genus Acropora memiliki jumlah jenis (spesies) terbanyak dibandingkan genus lainnya pada karang. Karang jenis ini biasanya tumbuh pada perairan jernih dan lokasi dimana terjadi pecahan ombak. Bentuk koloni umumnya bercabang dan tergolong jenis karang yang cepat tumbuh, namun sangat rentan terhadap sedimentasi dan aktivitas penangkapan ikan.
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Acropora antara lain ialah:
• Koloni biasanya bercabang, jarang sekali menempel ataupunsubmasif.
• Koralit dua tipe, axial dan radial.
• Septa umumnya mempunyai dua lingkaran.
• Columella tidak ada.
• Dinding koralit dan coenosteum rapuh.
• Tentakel umumnya keluar pada malam hari.
2. Genus Montipora (Familia Acroporidae)
Genus Montipora sering ditemukan mendominasi suatu daerah. Sangat tergantung pada kejernihan suatu perairan. Biasanya berada pada perairan dangkal berkaitan dengan intensitas cahaya yang diperolehnya dengan bentuk koloni berupa lembaran.
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Montipora ini antara lain ialah:
• Bentuk koloni bervariasi, ada yang submasif, laminar, menempel ataupun bercabang.
• Ukuran koralit umumnya kecil.
• Septa umumnya memiliki dua lingkaran dengan bagian ujung (gigi) muncul keluar. Apabila disentuh maka akan terasa tajam.
• Tidak memiliki columella.
• Dinding koralit dan coenosteum keropos. Coenosteum memiliki beberapa tipe: Papillae bila coenosteum lebih kecil dibandingkan dengan ukuran koralit, dan tuberculae jika sebaliknya. Apabila berkelompok mengelilingi koralit disebut thecal papillae dan juga ada thecal tuberculae.
• Tentakel umumnya keluar pada malam hari.
o Karang yang struktur rangka kapurnya mirip dengan genusMontipora adalah genus Porites, dan kadangkala sulit untuk membedakannya. Namun pada pengamatan bawah air, struktur internal pada koralit karang genus Porites lebih jelas terlihat dibandingkan dengan karang genus Montipora, dan sebagian besar Montipora memiliki coenosteum yang lebar, sementaraPorites tidak memiliki coenosteum.
3. Genus Pocillopora (Familia Pocilloporidae)
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Pocillopora antara lain ialah:
• Koloni umumnya berbentuk submasif, bercabang, ataupun bercabang dengan bentuk pipih.
• Koloni ditutupi oleh verrucae.
• Koralit cekung ke dalam pada verrucae.
• Koralit mungkin tidak memiliki struktur dalam atau memilikicolumella yang kurang berkembang.
• Memiliki dua lingkaran septa yang tidak sama.
• Coenosteum biasanya ditutupi oleh granules (butiran).
• Tentakel umumnya keluar hanya pada malam hari
• Genus Pocillopora merupakan satu-satunya genus pada karang yang memiliki verrucae. Hal tersebut menjadi ciri khas yang membedakannya dengan genus-genus karang yang lain.
4. Genus Seriatopora (Familia Pocilloporidae)
Karakteristik genus Seriatopora antara lain ialah:
• Ciri khas koloninya berbentuk compact bushes dengan cabang yang halus. Koralit tersusun rapi (neat rows) sepanjang cabang.
• Koralit sebagian besar tenggelam (immerse) dan struktur internal tidak begitu berkembang kecuali columella.
• Septa umumnya berjumlah satu, namun kadangkala terdiri atas dua lingkaran, dan telah berkembang dan menyatu hingga ke columella.
• Coenosteum ditutupi oleh spinules (duri-duri) yang halus.
• Struktur rangka kapur genus Seriatopora hampir mirip dengan genusStylophora, tetapi dapat dibedakan, dimana percabangan genusSeriatopora lebih halus (kecil) dibandingkan dengan genus Stylophora.
5. Genus Favia (Familia Faviidae)
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Favia antara lain ialah:
• Bentuk koloni umumnya masif, flat atau dome-shaped.
• Koralit sebagian besar monocentric (satu columella dalam satu corallite) dan plocoid.
• Memperbanyak koralit melalui pembelahan intratentacular.
• Tentakel umumnya keluar hanya pada malam hari.
• Struktur rangka kapur genus Favia mirip dengan genus Favites tapi dapat dibedakan dengan perbedaan tipe koralit karang. Tipe koralitFavites tergolong ceroid, sedangkan tipe koralit Favia tergolongplocoid.
6. Genus Favites (Familia Faviidae)
Beberapa karakteristik bentuk rangka kapur dari genus Favites :
• Bentuk koloni umumnya masif, flat atau dome-shaped.
• Koralit berbentuk monocentric dan ceroid, beberapa berbentuksubplocoid.
• Pada koloni karang ini, antar dua koralit dibatasi oleh satu dinding koralit.
7. Genus Porites (Familia Poritidae)
Beberapa karakteristik bentuk rangka kapur dari genus Porites :
• Bentuk koloni ada yang flat (foliaceous atau encrusting), masif ataubercabang.
• Koloni yang masif berbentuk bulat ataupun setengah bulat. Koloni masif yang kecil akan terlihat berbentuk seperti helm atau dome-shaped, dengan diameter dapat mencapai lebih dari 5 m.
• Koralit berukuran kecil, cekung ke dalam (terbenam) pada badan koloni dengan lebar Calice kurang dari 2 mm.
• Tentakel umumnya keluar pada malam hari.
Genus Porites ini mirip dengan genus Montipora dan Stylaraea, namun memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan antara Porites denganMontipora ialah bahwa Porites memiliki bentuk pertumbuhan yang lebih beragam, koralit pada Porites lebih besar, kokoh dan tidak ada elaborate thecal (perpanjangan dinding koralit). Genus Montipora mempunyai dua tipe coenosteum, yaitu reticulum papillae dan tuberculae. Selain itu,Porites memiliki koralit yang umumnya selalu terlihat septanya, sementaraMontipora hanya memiliki perpanjangan gigi septa yang menonjol keluar sehingga terasa runcing dan kasar bila tersentuh.
8. Genus Goniopora (Familia Poritidae)
• Bentuk koloni columnar , masif dan encrusting.
• Koralit tebal tapi berdinding keropos dan calice memiliki septa yang kokoh dan memiliki columella.
• Polip genus Goniopora berukuran panjang dan keluar baik pada malam maupun siang hari.
• Polip genus Goniopora memiliki 24 tentakel.

dikutip dari:http://www.terangi.or.id/publications/pdf/sistematika.pdf