Penyelaman Arkeologi

Benda Muatan Asal Kapal Tenggelam di Situs Karang Kijang – Belitung;
Survei Awal Arkeologi Bawah Air[1]
Harry Octavianus Sofian[2]
Balai Arkeologi Palembang
 
Abstrak
Pulau Belitung dikelilingi oleh dua selat, yaitu Selat Gaspar dan Selat Karimata yang dikenal oleh para pelaut sebagai selat yang memiliki banyak terumbu karang dan beting pasir yang dapat menyebabkan kapal tenggelam atau kandas. Pulau Belitung dikenal sebagai surga peninggalan arkeologi bawah air berupa kapal tenggelam atau kandas dan benda muatannya. Salah satu tempat yang terdapat BMKT adalah Situs Karang Kijang, tulisan ini akan membahas survei arkeologis yang dilakukan di perairan Karang Kijang-Belitung sehingga diharapkan dapat menambah data tinggalan arkeologi bawah air Indonesia.
Kata kunci : Pulau Belitung, Situs Karang Kijang, arkeologi bawah air
 
Shipwreck Treasure in Karang Kijang Site – Belitung Distric;
Preliminary Survey of Underwater Archaeology
Abstrack
Belitung island surrounded by two straits, the Gaspar Strait and the Strait Karimata known by sailors as a strait which has many reefs and shoals of sand that can cause the ship sank. Belitungisland known as the underwater archaeological sites in the form of ships sank. One of the places isKarang Kijang Site, this paper will discuss the archaeological preliminary survey conducted in this sites, which is expected to increase data Indonesia underwater archeological sites.

Key words: 
Belitung Island, Karang Kijang site, underwater archeology
 
PENDAHULUAN  
1.      Latar Belakang
Berdasarkan letak geografisnya, Pulau Belitung berada pada posisi 2°30’ – 3°15’ Lintang Selatan dan 107°35’ – 108°18’ Bujur Timur pada bagian utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah timur Selat Karimata, sebelah Barat berbatasan dengan Selat Gaspar dan batas Selatan dengan Laut Jawa. Pulau Belitung banyak dikelilingi pulau-pulau besar dan kecil dengan jumlah sekitar 189 pulau. Luas wilayah Pulau Belitung seluas 34.496 km² terdiri dari 4.800 km² daratan dan 29.606 km² perairan (Listiyani,2008;20).
 
Gambar 1. Peta Keletakan Pulau Belitung
(Sumber : google earth)
 
Letak geografis Pulau Belitung yang strategis menjadikan Pulau Belitung sebagai salah satu jalur pelayaran perdagangan internasional, hal ini dapat dilihat dari bukti-bukti arkeologi berupa kapal karam dan muatannya yang ditemukan merupakan bukti peranan Pulau Belitung dalam jalur pelayaran perdagangan internasional. Beberapa kapal karam yang ditemukan antara lain Belitung Wreck abad ke-8, Tek Singabad ke-18, Intan Wreck abad ke-10. Penemuan kapal karam memastikan jalur sepanjang pantai terhubung dengan pelabuhan-pelabuhan yang disinggahi. Pada abad ke-8 – 9, nusantara menjadi lintasan kapal niaga antara Asia Timur atau Cina dengan Asia Barat dari India sampai Timur Tengah, kemudian menjelang abad ke-17 mulai berkembang ke Jepang dan Eropa (Harkatiningsih:2010;16-18).
 
Gambar 2. Peta rute perdagangan keramik melalui jalur pelayaran
(Sumber : Harkatiningsih:2010;17)
 
Kehadiran barang-barang keramik menjadi salah satu indikasi lebih nyata tentang aktivitas pelayaran dan perdagangan. Keramik merupakan salah satu artefak yang memiliki ciri-ciri asal pembuatannya dan masa/kronologinya. Oleh karena itu, melalui identifikasi keramik dan korelasinya dengan tinggalan lain, dapat memberikan bukti-bukti atau peristiwa yang ada kaitannya dengan terbentuk dan berkembangnya hubungan atau kontak dagang, baik secara regional maupun interregional. Lebih dari itu, situs kapal karam merupakan himpunan yang sejaman (assemblage) yang mengandung nilai data yang sangat tinggi (Harkatiningsih:2010;16).
 
2.      Permasalahan
Saat ini perhatian terhadap penelitian tinggalan arkeologi bawah air masih sangat terbatas, padahal Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak peninggalan bawah air, salah satunya adalah Pulau Belitung yang merupakan surga bagi penelitian arkeologi bawah air. Hasil pendataan yang dilakukan oleh Direktorat Peninggalan Bawah Air, situs-situs arkeologi bawah air di perairan Belitung antara lain :
1.      Shipwreck yang terdapat di perairan Desa Sungai Pandan, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung dengan keadaan bangkai kapal masih tersisa.
2.      Shipwreck Batu Hitam (Belitung Wreck) pada tahun 1998 telah dieksplorasi oleh pihak swasta, isi muatan yang utuh sudah terangkat, yang tertinggal adalah bangkai dan artefak yang tidak utuh.
3.      Shipwreck perairan Pulau Siadung
4.      Shipwreck perairan Karang Raya (R.Widiati dalam Listiani: 2008;21).
Situs Karang Kijang merupakan salah satu tinggalan arkeologi yang belum pernah dilakukan penelitian arkeologi sebelumnya sehingga belum diketahui potensi tinggalan arkeologi yang ada di Situs Karang Kijang.
 
3.      Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah mendata tinggalan arkeologi yang ada di Situs Karang Kijang dan memberikan saran untuk penelitian selanjutnya.
 
4.      Metode Penelitian
Metode Penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini bersifat eksplorasi yaitu menjajagi potensi arkeologis yang terdapat di suatu tempat untuk mengetahui sesuatu yang belum diungkapkan (Sukendar,1999;20).
 
 
HASIL DAN PEMBAHASAN
 
Situs Karang Kijang berada sebelah barat Selat Gaspar tepatnya di koordinat 45° 22’S, 107° 34’E. Karang Kijang merupakan penamaan lokal masyarakat setempat terhadap gugusan karang, hal ini untuk membedakan letak gugusan karang yang banyak terdapat di perairan Belitung. Jarak tempuh Situs Karang Kijang dari Pelabuhan Nusantara adalah 6,2 km dan 258°.
 
 
 
Gambar 3. Peta letak Situs Karang Kijang
(sumber : google earth dengan modifikasi penulis)
 
Situs Karang Kijang memiliki kedalaman hanya 1,5 meter dari permukaan laut dan memiliki luas ± 100 m². Temuan artefak yang ditemukan adalah keramik dan fragmen bagian kapal. Temuan artefak keramik ditemukan secara mengelompok dan telah rusak, pada saat pengamatan penulis tidak menemukan artefak keramik yang utuh. Menurut nelayan, Situs Karang Kijang telah dijarah BMKT-nya, ada ribuan artefak keramik berupa mangkuk, buli-buli, dan guci utuh yang ditemukan dan dijarah oleh masyarakat. Mengingat Situs Karang Kijang hanya memiliki kedalaman yang dangkal tidak mengherankan jika situs ini mudah sekali dijarah.
 
 
Gambar 4. Foto Situs Karang Kijang memiliki kedalaman
hanya 1,5 m dari atas permukaan laut.
(sumber : Balai Arkeologi Palembang)
 
Keramik-keramik yang ditemukan di Situs Karang Kijang adalah keramik biru putih (blue white) dengan motif fauna yaitu motif naga (dragon) dan punggung kura-kura (turtle back). Keramik-keramik tersebut tersebar secara mengelompok dan bertumpuk-tumpuk di antara karang. Tumpukan-tumpukan keramik tersebut merupakan keramik sortir dan dibuang oleh para penjarah karena tidak utuh atau pecah dan sudah tidak bernilai ekonomis lagi.
 
 
 
Gambar 4 dan 5. Foto temuan fragmen keramik biru putih
berupa mangkuk dan buli-buli (?)
(sumber : Balai Arkeologi Palembang)
 
Keramik biru putih dengan motif naga, menurut Mr. Koh merupakan kepala dari seluruh reptil bersisik, naga merupakan kekuatan yang dapat naik ke surga maupun ke dalam bumi karena dapat mendatangkan hujan, sehingga menjadi simbol kekaisaran China serta menjadi simbol penting bagi masyarakat China karena menganggap dirinya merupakan keturunan naga. Sedangkan motif punggung kura-kura merupakan lambang dari umur panjang. Qilin, Phoenix, Kura-kura dan Naga adalah makhlukrohani 4 diberkati. Kura-kura juga disebut xuan wu (玄武), prajurit hitam memimpin bagian utara alam semesta dan melambangkan musim dingin. (Koh;2008).
 
 
 
 
Gambar 5 dan 6. Foto sebaran fragmen keramik
yang mengelompok
(sumber foto: BP3 Jambi)
 
 
Seperti telah penulis sebutkan sebelumnya, keramik tersebar mengelompok dan tidak utuh. Fragmen keramik ditemukan bertumpuk-tumpuk membentuk gundukan keramik, penulis memperkirakan keramik sisa yang masih ditemukan disitus merupakan keramik yang tidak bernilai ekonomis karena tidak bernilai jual dan ada keramik yang memang sudah pecah saat kapal menghantam karang dan kandas, keramik merupakan barang pecah belah (fragile). Berdasarkan analisa awal, penulis memperkirakan BMKT di situs Karang Kijang adalah keramik dari Dinasti Ming. Analisa ini penulis dapatkan dengan cara melakukan seriasi (tehnik perbandingan) motif dari keramik.
 
 
 
Gambar 7 dan 8. A, keramik Tiansun/Chenghua
periode Dinasti Ming, sedangkan B, keramik dari situs Karang Kijang.
Kedua keramik ini memiliki motif punggung kura-kura
(sumber foto A: koh-antique.com, foto B: Balai Arkeologi Palembang)
 
 
Tidak diketahui pasti kapal kandas yang membawa kargo di situs karang Kijang. Apakah kapal China, seperti situs Tek-Sing, apakah kapal Arab seperti situs Belitung Wreck, atau bahkan kapal Eropa atau Nusantara yang mengangkut kargo keramik China. Tidak ditemukan petunjuk yang berarti, penulis hanya menemukan fragmen bagian kapal yang tidak diketahui lagi bagiannya. Tentu saja analisis karbon dating (C14) di perlukan untuk mengetahui asal kayu seperti yang pernah dilakukan pada situs Belitung Wreck(lihat artikel Flecker tentang situs Belitung Wreck).
 
 
 
Gambar 7. Fragmen bagian perahu terbuat dari kayu
(sumber foto : BP3 Jambi)
 
KESIMPULAN
 
Situs Karang Kijang merupakan salah satu situs arkeologi bawah air dengan kedalaman yang dangkal, yaitu 1,5 meter di bawah permukaan laut. Karena letak dan kedalaman yang mudah dicapai oleh manusia serta BMKT-nya bernilai ekonomis maka Situs Karang Kijang di jarah BMKT-nya sehingga situs arkeologi ini menjadi rusak. Tinggalan data artefak berupa keramik yang masih in situ pada situs adalah keramik dengan motif flora yaitu naga dan kura-kura, keramik-keramik tersebut berbentuk mangkuk, buli-buli dan guci.
Walaupun situs ini telah dirusak, namun situs ini menjadi bukti arkeologi keganasan Selat Gaspar dengan gosong karangnya sehingga mampu untuk mengkandaskan kapal dan menumpahkan muatannya. Tidak diketahui pasti kapal apa dan dari mana kapal pembawa keramik ini berasal karena rusaknya data arkeologi pada situs. Namun situs ini layak dijadikan tempat pelatihan arkeologi bawah air untuk belajar cara melakukan lay-out dan pengukuran arkeologi bawah air dengan kedalaman yang dangkal.
 
 
 
PENGHARGAAN
 
Ucapan terima kasih penulis sampaikan untuk Agus Sudaryadi dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi dan Sakinawa dari EMAS Diving Club Bangka Belitung atas bantuannya.
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Sukendar, Haris (Ed). 1999. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta; Departemen Pendidikan Nasional Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Listiyani. 2008. Keramik BMKT Hasil Survei Kepurbakalaan Di Kabupaten Belitung. Buletin Relik No. 06 September 2008. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi.
Harkatiningsih, Naniek. Perdagangan Di Nusantara: Bukti-bukti Jaringan Interregional makalah dalam Proceeding Perdagangan, Pertukaran Dan Alat Tukar Di Nusantara Dalam Lintas Masa. Semarak Arkeologi 2010. Balai Arkeologi Bandung.
 
Internet
Koh,NK. 2008Dragon, Winged Dragon, Dragon With Foliated Tail And Chi Dragon.http://www.koh-antique.com/motif/motif1.html (diakses tgl 21-04-2011).
 
 
 


[1] Artikel telah diterbitkan di Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat  TH. III No. 1, Juni 2011, Balai Arkeologi Jayapura
[2] Staf arkeologi Balai Arkeologi Palembang, Jl. Kancil Putih Lrg. Rusa Demang Lebar Daun Palembang 30137